Selasa, 24 Juni 2014

Mora Mengenal Allah


            Mendung. Hujan masih malu-malu dan bersembunyi diperaduannya. Kansha mengambangkan pandangan seluas langit membentang sore hari. Sisa waktu yang Kansha nikmati sebelum petang di sambut dengan lantunan adzan Maghrib di desa Sumberagung. Waktu yang mengarahkan bola matanya yang hitam berpadu dengan lonceng terbesar di desanya. Lonceng yang membuat Kansha tercekat perih melihat anak-anak di desanya. Anak-anak yang tidak pernah aku lihat belajar di serambi masjid, kecuali di bulan Ramdhan.
            Kansha bukan seorang ustadzah, bukan lulusan pesantren, bukan pula orang yang sangat fasih dengan ilmu agama. Islam. Dia hanyalah seorang freelance designer. Ah, peristiwa itu seperti baru kemarin terjadi. Kala dia yang masih kecil menikmati hujan yang mengguyur jalan, berbondong-bondong mengangkat payung menutupi jilbab warna-warninya pergi mengaji yang dulunya masih berupa mushola. Tapi, sore itu sungguh berbeda, yang Kansha lihat di depan mata kini remaja gereja depan rumahnya berbondong-bondong memasuki ruangan. Mereka bernyanyi menyebut-nyebut Tuhannya. Iri. Tentu.
            Tentu saja Kansha iri, iri karena penduduk muslim yang lebih banyak dari mereka justru sering membiarkan masjidnya kosong tanpa ada sentuhan ibadah kecuali sholat lima waktu. Itu pun jumlahnya mungkin tak lebih dari 12 orang dengan tak lebih banyak 3 orang pria di dalamnya. Well, bagaimana anak-anak di desa ini cinta dengan agama yang sejak lahir mereka peluk? Akankah Kansha terdiam menanti ajakan remaja lainnya ‘memakmurkan’ masjid? Atau memulainya sendiri, tapi seberapa jauh pengetahuan agamanya untuk mengajari mereka?
            Kenyataannya, Kansha harus memulai sendiri. Dan ketika niat itu sudah berkumpul menjadi bara membakar semangat mengajar anak-anak, seorang pria melangkah ke arah Kansha.
“Mbak Kansha, saya mau bincang-bincang sama mbak Kansha bisa?” kata pria yang pernah menjadi atasan sekaligus tetangganya.
“Oh, iya mas silahkan. Ada apa ya mas?” Kansha mempersilahkannya duduk di kursi teras rumah.
            Air mukanya tampak sungkan membicarakan maksud kedatangannya. Pria ini mulai membuka pembicaraan tentang anaknya Mora. Gadis kecil berponi, itu berulang kali pindah dari masjid satu ke masjid lainnya, untuk belajar mengaji. Alasannya wajar seperti kebanyakan anak pada umumnya. Malas karena jauh atau tidak punya teman dari desanya. Pria ini menaruh harapan jawaban Kansha ‘bersedia mengajar ngaji’ di rumahnya saban habis Maghib hingga Ishak. Ada rasa takut terlihat di wajahnya. Entah ketakutan macam apa itu. Kansha pun juga tidak ingin menolak tawaran ini, meski berbekal pemahaman Kansha yang kurang dari cukup.
“Iya mas, insya Allah lusa bisa di mulai.” Senyum Kansha yakin, toh Mora anak yang cerdas jadi dia rasa tidak begitu sulit mengajarinya mengaji.
            Seusai sholat Kansha raih jilbab hitamnya, bergegas berjalan menyusuri jalan bertanah, menembus petang. Semangat sekali rasa di hati Kansha. Mempunyai murid pribadi, seperti apa rasanya nanti. Pintu rumahnya terbuka lebar. Si gadis berponi itu sedang asyik melihat acara kartun kesukaannya.
“Assalamu’alaikum...” salamnya, gadis berponi yang tahu kedatangan Kansha langsung menghambur berlari masuk di salah satu ruangan rumahnya.
            Mora tidak peduli dengan salam Kansha. Mora hanya berlari lantas kembali ke arah Kansha membawa iqro’ ditangannya, bahkan ketika Kansha masih di teras rumahnya. Seorang ibu muda yang sangat mirip dengan Mora mempersilahkan Kansha masuk.
Senyum terbaiknya  menghiasi wajah tirus Kansha. “Mora mau ngaji kan?” Tanya Kansha.
Malu-malu dia mengganggukan kepala.
“Nah, kalau gitu pakai jilbab ya.” Pinta sehalus-halusnya.
            Anak dengan usia delapan tahun itu mungkin hanya memahami menutup aurat itu hanya untuk pergi ke masjid mengaji, atau saat idul fitri saja. Oh, mungkin saja dia juga belum tahu apa itu menutup aurat. Mungkin jilbab yang Kansha maksud tadi dia pahami sebagai maju muslim. Ya, setidaknya seperti itu yang sering Kansha dengar setiap ngaji diwaktu bulan Ramadhan tiba.
            Mora berdiri mematung di depan Kansha. Tersenyum malu. Kansha pun juga tersenyum. Kaos biru bergambar kelinci dengan lengan sesiku, di padukan celana katun pulkadot biru di bawah lutut, plus jilbab pink yang tidak sampai menutup semua leher belakangnya.
“Aduh cantiknya, siapa yang pakaiin jilbabnya?” puji Kansha yang sekaligus ingin mencari tahu baju yang dia pakai pilihannya sendiri atau bukan.
“Ibu.”
            Glek. Terjawab sudah semua rasa penasaran Kansha. Dia hanya memahami suatu hal kala ibunya dulu mengajari untuk memakai jilbab yang baik, menutup semua tubuhnya dengan kain hingga mata kaki, kecuali telapak tangan dan wajah tiap kali mengaji. Dimanapun itu.
“Besok, Mora pakai baju muslim saja ya? Biar tambah cantik.” Kata Kansha memberi pemahaman yang sedangkal-dangkalnya.
            Mengerti. Dia lantas memulai bacaan iqro’ jilid dua dengan basmalah. Baris demi bari terbaca lancar hingga beberapa lembar berikutnya. Satu, empat huruf harus dibetulkan cara bacanya. Giginya yang tanggal tepat di deretan depan atas tampak menggemaskan ketika dia menyeringai, mencoba menirukan bibir Kansha menucapkan huruf tsa’- sin – syien – shot.
            Cukup untuk hari itu membenarkan bacaan Mora, adzan ishak berkumandang masih lama. Tangan kecil Meltida membolak-balik lembaran iqro’ di depannya. Menunggu pelajaran apa lagi yang akan ia terima dari Kansha.
“Santri.” Kata Kansha seperti biasa ketika dia mengajar bersama teman-teman sewaktu bulan Ramadhan di masjid.
“Siap.” Jawabnya lirih.
“Kok nggak semangat. Semangat dong, anak Sholehah harus semangat. Mau masuk surga masak nggak semangat.” Bujuknya.
            Kansha mengulangi. Mora lantang menjawabnya. Kali ini Kansha mengajaknya bernyanyi rukun islam dengan nada bernyanyi seperti lagu balonku ada lima. Bertepuk tangan berdua. Berdendang dengan riang. Hingga ibunya keluar menyimak anaknya bersemangat.
Rukun islam yang lima, syahadat sholat puasa.. zakat untuk si papa.. haji bagi yang kuasa... siapa belum sholat, deerrrr.. siapa belum zakat,, kan rugi di akhirat, Allah pasti melaknat..
Kembali bernyanyi dua tiga lagu, sampai semangat Mora menyala.
            Kansha berfikir sejenak. Mencari sebuah pertanyaan yang akan menjadi topic pembelajaran selanjutnya. Tentu saja sesimpel mungkin dan semenyenangkan mungkin.
“Syahadat itu bunyinya seperti apa sih Ra?” Tanya Mora pura-pura tidak tahu.
            Mora menunjukan giginya yang tanggal. Menyeringai. Baginya ini pertanyaan yang mudah. Tentu saja karena sering sekali kalimat pernyataan suci ia ucapkan bersama kawan-kawannya. Benar. Fasih dia ucapkan.
“Pinter. Ada berapa sih kalimat syahadat itu Ra?”
            Kali ini matanya berkeliling menerawang plafon-plafon rumahnya, mencari tahu jawaban. Mentok, dia tatap ibunya untuk mencari tahu jawaban.
“Hehehe..” tawa yang polos karena tidak paham.
“Ra, syahadat itu ada dua kalimat. Ada syahadat tauhid dan syahadat rosul. Kalau digabungin jadinya kayak yang di ucapin Mora tadi.” Kansha berhenti sejenak tersenyum. Mencari spidol untuk menulis di papan putih yang sudah disediakan.
“Syahadat tauhid itu bunyinya seperti ini Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah nah kalau syahadat Rosul bunyinya Asyhadu an-na Muhammadarrosuululloh. Jadi dua kalimat syahadat itu bunyinya Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu an-na Muhammadarrosuulullo.”
            Mora mulai paham dan mulai menghafalkan. Tidak butuh waktu lama untuk bisa menghafalnya.
“Nah, syahadat tauhid kan tentang saksi kita kalau nggak ada Tuhan selain Allah. Mora, Tuhan itu ada berapa sih?” Tanya Kansha.
            Diam. Beberapa detik kemudian menyeringai. Tidak tahu. Butuh beberapa menit Kansha mengatur hati. Sungguh dalam hatinya miris melihat bahasa tubuh Mora yang tidak kenal Tuhannya. Allah yang sering dia dengar, belum dia kenal, belum singgah di hatinya. Lantas, Kansha harus dari mana menjelaskannya. Penjelasan yang seperti apa agar di paham?
“Ra, Tuhan itu Allah. Kalau bu guru di sekolah bilang Tuhan, itu mungkin teman Mora ada selain Islam. Bisa jadi ada yang Kristen, Katolik, Budha, atau Hindu. Dan Tuhan atau Allah adanya cuma satu. Tidak punya bapak ibu, tidak punya kakak, juga tidak punya anak. Paham Ra?” dalam hati Kansha was-was, kalau-kalau penjelasannya susah dimengerti Mora.
“Jadi Allah itu siapa Ra?” Tanya Kansha lagi.
“Yang nyiptain aku, bumi, dan semuanya mbak.” Keragu-raguan terdengar dari mulut kecilnya.
“Pinter. Jadi sudah paham kan Allah itu Tuhan yang satu.” Ulangnya. “Kalau gitu, Mora cinta nggak sama Allah?” Tanya Kansha lagi dengan nada sedikit menggodanya.
            Mengangguk.
“Kalau cinta, buktinya apa? Kalau ibu cinta kan Mora minta apa di kasih. Kalau sakit dibawa kedokter. Pokoknya sebisanya ibu dan ayah Mora akan bikin Mora senang terus karena mereka cinta dan sayang sama Mora. Nah, kalau Mora cinta sama Allah, Mora nglakuin apa buat Allah, biar Allah senang?”
            Menggeleng. Muka mulai serius menyimak penjelasann Kansha lagi. Kansha pun mencari kata yang paling sederhana untuk menjelaskannya. Sesederhana mungkin dia ingin ada rasa cinta di hati Mora pada DIA yang maha pengasih dan penyayang.
“Lho, kok geleng- geleng. Ini kan juga bikin Allah senang. Ngaji, sholat lima waktu, selalu dengerin ibu sama ayah. Nggak nakal, terus harus semangat belajar.” Terangnya.
“Belajar juga bikin Allah senang mbak?” matanya membelalak dan akhirnya ada pertanyaan yang dia ajukan.
“Iya dong, kalau rajin belajar nanti Mora kan jadi pinter. Nah, kalau pinter ibu pasti senang, bikin ibu senang kan juga bikin Allah senang. Hayo masak lupa sih surga itu dimana.” Goda Kansha.
“Surga di telapak kaki ibu.” Dia mencoba melihat telapak kaki ibunya, mencoba menggoda ibu yang dia sayangi.
            Suasana menjadi ramai gelak tawa karena ulah Mora. Anak yang tadinya malu-malu kini terlihat ceria dan lebih bersemangat. Berbarengan dengan adzan Ishak, Mora mengemasi iqro’ dan meja kecilnya. Kansha bersiap diri berpamitan dan sekali lagi menegaskan pada Mora tentang Allah, Tuhan yang selalu cinta dan sayang pada makhluk-Nya. Sehingga kita juga harus patuh pada-Nya dan membuat-Nya senang, jangan sampai Allah murka pada kita.
            Dalam langkahnya menyusuri jalan yang semakin gelap. Bunyi jangkrik yang menemani Kansha memahami kesalahan yang tidak pernah dia sadari. Bagaimana berbagai macam pelajaran agama mereka pelajari, mereka hafalkan tapi Allah yang menciptakannya belum sepenuhnya di pahami. Cinta. Mungkin belum ada di hatinya. Mungkin tidak hanya mereka yang kanak-kanak yang belum memahami. Kadang yang dewasa mungkin juga sama seperti mereka, mungkin lebih hingga lupa karena kesibukan dunia.
            Mengenal Allah bagi Kansha merupakan landasan paling penting untuk diajarkan sejak dini. Bagaimana mereka kelak akan membela mati-matian agama dan keyakinannya, kalau Allah saja mungkin belum mereka ‘kenal’. Bagaimana mereka kelak hidup berakhlak mulia, patuh orang tua, mejadi pemimpin yang adil, pengusaha yang dermawan, ilmuan yang hebat, kalau mereka belum mencitai Allah? bertumpuk-tumpuk pertanyaan menghujani pikiran Kansha, menegaskan sebuah langkah kecil yang harus dia mulai sendiri. Membuka TPA di masjid, saling berbagi ilmu. Dan mulai saat itulah Kansha semakin bersemangat untuk belajar dan mengajar tentang agama dan keyakinan yang telah dia peluk selama lebih dari dua puluh tahun.