Mendung.
Hujan masih malu-malu dan bersembunyi diperaduannya. Kansha mengambangkan
pandangan seluas langit membentang sore hari. Sisa waktu yang Kansha nikmati
sebelum petang di sambut dengan lantunan adzan Maghrib di desa Sumberagung. Waktu
yang mengarahkan bola matanya yang hitam berpadu dengan lonceng terbesar di
desanya. Lonceng yang membuat Kansha tercekat perih melihat anak-anak di desanya.
Anak-anak yang tidak pernah aku lihat belajar di serambi masjid, kecuali di
bulan Ramdhan.
Kansha
bukan seorang ustadzah, bukan lulusan pesantren, bukan pula orang yang sangat
fasih dengan ilmu agama. Islam. Dia hanyalah seorang freelance designer. Ah, peristiwa itu seperti baru kemarin terjadi.
Kala dia yang masih kecil menikmati hujan yang mengguyur jalan,
berbondong-bondong mengangkat payung menutupi jilbab warna-warninya pergi
mengaji yang dulunya masih berupa mushola. Tapi, sore itu sungguh berbeda, yang
Kansha lihat di depan mata kini remaja gereja depan rumahnya berbondong-bondong
memasuki ruangan. Mereka bernyanyi menyebut-nyebut Tuhannya. Iri. Tentu.
Tentu
saja Kansha iri, iri karena penduduk muslim yang lebih banyak dari mereka
justru sering membiarkan masjidnya kosong tanpa ada sentuhan ibadah kecuali
sholat lima waktu. Itu pun jumlahnya mungkin tak lebih dari 12 orang dengan tak
lebih banyak 3 orang pria di dalamnya. Well,
bagaimana anak-anak di desa ini cinta dengan agama yang sejak lahir mereka
peluk? Akankah Kansha terdiam menanti ajakan remaja lainnya ‘memakmurkan’
masjid? Atau memulainya sendiri, tapi seberapa jauh pengetahuan agamanya untuk
mengajari mereka?
Kenyataannya,
Kansha harus memulai sendiri. Dan ketika niat itu sudah berkumpul menjadi bara
membakar semangat mengajar anak-anak, seorang pria melangkah ke arah Kansha.
“Mbak Kansha, saya mau bincang-bincang
sama mbak Kansha bisa?” kata pria yang pernah menjadi atasan sekaligus
tetangganya.
“Oh, iya mas silahkan. Ada apa ya
mas?” Kansha mempersilahkannya duduk di kursi teras rumah.
Air
mukanya tampak sungkan membicarakan maksud kedatangannya. Pria ini mulai
membuka pembicaraan tentang anaknya Mora. Gadis kecil berponi, itu berulang
kali pindah dari masjid satu ke masjid lainnya, untuk belajar mengaji.
Alasannya wajar seperti kebanyakan anak pada umumnya. Malas karena jauh atau
tidak punya teman dari desanya. Pria ini menaruh harapan jawaban Kansha
‘bersedia mengajar ngaji’ di rumahnya saban habis Maghib hingga Ishak. Ada rasa
takut terlihat di wajahnya. Entah ketakutan macam apa itu. Kansha pun juga
tidak ingin menolak tawaran ini, meski berbekal pemahaman Kansha yang kurang
dari cukup.
“Iya mas, insya Allah lusa bisa di
mulai.” Senyum Kansha yakin, toh Mora anak yang cerdas jadi dia rasa tidak
begitu sulit mengajarinya mengaji.
Seusai
sholat Kansha raih jilbab hitamnya, bergegas berjalan menyusuri jalan bertanah,
menembus petang. Semangat sekali rasa di hati Kansha. Mempunyai murid pribadi,
seperti apa rasanya nanti. Pintu rumahnya terbuka lebar. Si gadis berponi itu
sedang asyik melihat acara kartun kesukaannya.
“Assalamu’alaikum...” salamnya,
gadis berponi yang tahu kedatangan Kansha langsung menghambur berlari masuk di
salah satu ruangan rumahnya.
Mora
tidak peduli dengan salam Kansha. Mora hanya berlari lantas kembali ke arah
Kansha membawa iqro’ ditangannya, bahkan ketika Kansha masih di teras rumahnya.
Seorang ibu muda yang sangat mirip dengan Mora mempersilahkan Kansha masuk.
Senyum terbaiknya menghiasi wajah tirus Kansha. “Mora mau ngaji
kan?” Tanya Kansha.
Malu-malu dia mengganggukan kepala.
“Nah, kalau gitu pakai jilbab ya.”
Pinta sehalus-halusnya.
Anak
dengan usia delapan tahun itu mungkin hanya memahami menutup aurat itu hanya
untuk pergi ke masjid mengaji, atau saat idul fitri saja. Oh, mungkin saja dia
juga belum tahu apa itu menutup aurat. Mungkin jilbab yang Kansha maksud tadi
dia pahami sebagai maju muslim. Ya, setidaknya seperti itu yang sering Kansha
dengar setiap ngaji diwaktu bulan Ramadhan tiba.
Mora
berdiri mematung di depan Kansha. Tersenyum malu. Kansha pun juga tersenyum.
Kaos biru bergambar kelinci dengan lengan sesiku, di padukan celana katun
pulkadot biru di bawah lutut, plus jilbab
pink yang tidak sampai menutup semua
leher belakangnya.
“Aduh cantiknya, siapa yang pakaiin
jilbabnya?” puji Kansha yang sekaligus ingin mencari tahu baju yang dia pakai
pilihannya sendiri atau bukan.
“Ibu.”
Glek.
Terjawab sudah semua rasa penasaran Kansha. Dia hanya memahami suatu hal kala
ibunya dulu mengajari untuk memakai jilbab yang baik, menutup semua tubuhnya
dengan kain hingga mata kaki, kecuali telapak tangan dan wajah tiap kali
mengaji. Dimanapun itu.
“Besok, Mora pakai baju muslim saja
ya? Biar tambah cantik.” Kata Kansha memberi pemahaman yang
sedangkal-dangkalnya.
Mengerti.
Dia lantas memulai bacaan iqro’ jilid dua dengan basmalah. Baris demi bari
terbaca lancar hingga beberapa lembar berikutnya. Satu, empat huruf harus
dibetulkan cara bacanya. Giginya yang tanggal tepat di deretan depan atas
tampak menggemaskan ketika dia menyeringai, mencoba menirukan bibir Kansha
menucapkan huruf tsa’- sin – syien – shot.
Cukup
untuk hari itu membenarkan bacaan Mora, adzan ishak berkumandang masih lama.
Tangan kecil Meltida membolak-balik lembaran iqro’ di depannya. Menunggu pelajaran
apa lagi yang akan ia terima dari Kansha.
“Santri.” Kata Kansha seperti biasa
ketika dia mengajar bersama teman-teman sewaktu bulan Ramadhan di masjid.
“Siap.” Jawabnya lirih.
“Kok nggak semangat. Semangat dong,
anak Sholehah harus semangat. Mau masuk surga masak nggak semangat.” Bujuknya.
Kansha
mengulangi. Mora lantang menjawabnya. Kali ini Kansha mengajaknya bernyanyi
rukun islam dengan nada bernyanyi seperti lagu balonku ada lima. Bertepuk
tangan berdua. Berdendang dengan riang. Hingga ibunya keluar menyimak anaknya
bersemangat.
Rukun
islam yang lima, syahadat sholat puasa.. zakat untuk si papa.. haji bagi yang
kuasa... siapa belum sholat, deerrrr.. siapa belum zakat,, kan rugi di akhirat,
Allah pasti melaknat..
Kembali bernyanyi dua tiga lagu,
sampai semangat Mora menyala.
Kansha
berfikir sejenak. Mencari sebuah pertanyaan yang akan menjadi topic pembelajaran
selanjutnya. Tentu saja sesimpel mungkin dan semenyenangkan mungkin.
“Syahadat itu bunyinya seperti apa
sih Ra?” Tanya Mora pura-pura tidak tahu.
Mora
menunjukan giginya yang tanggal. Menyeringai. Baginya ini pertanyaan yang
mudah. Tentu saja karena sering sekali kalimat pernyataan suci ia ucapkan
bersama kawan-kawannya. Benar. Fasih dia ucapkan.
“Pinter. Ada berapa sih kalimat
syahadat itu Ra?”
Kali
ini matanya berkeliling menerawang plafon-plafon rumahnya, mencari tahu
jawaban. Mentok, dia tatap ibunya untuk mencari tahu jawaban.
“Hehehe..” tawa yang polos karena
tidak paham.
“Ra, syahadat itu ada dua kalimat.
Ada syahadat tauhid dan syahadat rosul. Kalau digabungin jadinya kayak yang di
ucapin Mora tadi.” Kansha berhenti sejenak tersenyum. Mencari spidol untuk
menulis di papan putih yang sudah disediakan.
“Syahadat tauhid itu bunyinya
seperti ini Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah nah kalau
syahadat Rosul bunyinya Asyhadu an-na
Muhammadarrosuululloh. Jadi dua kalimat syahadat itu bunyinya Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu
an-na Muhammadarrosuulullo.”
Mora
mulai paham dan mulai menghafalkan. Tidak butuh waktu lama untuk bisa
menghafalnya.
“Nah, syahadat tauhid kan tentang
saksi kita kalau nggak ada Tuhan selain Allah. Mora, Tuhan itu ada berapa sih?”
Tanya Kansha.
Diam.
Beberapa detik kemudian menyeringai. Tidak tahu. Butuh beberapa menit Kansha
mengatur hati. Sungguh dalam hatinya miris melihat bahasa tubuh Mora yang tidak
kenal Tuhannya. Allah yang sering dia dengar, belum dia kenal, belum singgah di
hatinya. Lantas, Kansha harus dari mana menjelaskannya. Penjelasan yang seperti
apa agar di paham?
“Ra, Tuhan itu Allah. Kalau bu guru
di sekolah bilang Tuhan, itu mungkin teman Mora ada selain Islam. Bisa jadi ada
yang Kristen, Katolik, Budha, atau Hindu. Dan Tuhan atau Allah adanya cuma
satu. Tidak punya bapak ibu, tidak punya kakak, juga tidak punya anak. Paham Ra?”
dalam hati Kansha was-was, kalau-kalau penjelasannya susah dimengerti Mora.
“Jadi Allah itu siapa Ra?” Tanya
Kansha lagi.
“Yang nyiptain aku, bumi, dan
semuanya mbak.” Keragu-raguan terdengar dari mulut kecilnya.
“Pinter. Jadi sudah paham kan Allah
itu Tuhan yang satu.” Ulangnya. “Kalau gitu, Mora cinta nggak sama Allah?”
Tanya Kansha lagi dengan nada sedikit menggodanya.
Mengangguk.
“Kalau cinta, buktinya apa? Kalau
ibu cinta kan Mora minta apa di kasih. Kalau sakit dibawa kedokter. Pokoknya
sebisanya ibu dan ayah Mora akan bikin Mora senang terus karena mereka cinta
dan sayang sama Mora. Nah, kalau Mora cinta sama Allah, Mora nglakuin apa buat
Allah, biar Allah senang?”
Menggeleng.
Muka mulai serius menyimak penjelasann Kansha lagi. Kansha pun mencari kata
yang paling sederhana untuk menjelaskannya. Sesederhana mungkin dia ingin ada
rasa cinta di hati Mora pada DIA yang maha pengasih dan penyayang.
“Lho, kok geleng- geleng. Ini kan
juga bikin Allah senang. Ngaji, sholat lima waktu, selalu dengerin ibu sama
ayah. Nggak nakal, terus harus semangat belajar.” Terangnya.
“Belajar juga bikin Allah senang mbak?”
matanya membelalak dan akhirnya ada pertanyaan yang dia ajukan.
“Iya dong, kalau rajin belajar
nanti Mora kan jadi pinter. Nah, kalau pinter ibu pasti senang, bikin ibu
senang kan juga bikin Allah senang. Hayo masak lupa sih surga itu dimana.” Goda
Kansha.
“Surga di telapak kaki ibu.” Dia
mencoba melihat telapak kaki ibunya, mencoba menggoda ibu yang dia sayangi.
Suasana
menjadi ramai gelak tawa karena ulah Mora. Anak yang tadinya malu-malu kini
terlihat ceria dan lebih bersemangat. Berbarengan dengan adzan Ishak, Mora
mengemasi iqro’ dan meja kecilnya. Kansha bersiap diri berpamitan dan sekali
lagi menegaskan pada Mora tentang Allah, Tuhan yang selalu cinta dan sayang
pada makhluk-Nya. Sehingga kita juga harus patuh pada-Nya dan membuat-Nya
senang, jangan sampai Allah murka pada kita.
Dalam
langkahnya menyusuri jalan yang semakin gelap. Bunyi jangkrik yang menemani
Kansha memahami kesalahan yang tidak pernah dia sadari. Bagaimana berbagai
macam pelajaran agama mereka pelajari, mereka hafalkan tapi Allah yang menciptakannya
belum sepenuhnya di pahami. Cinta. Mungkin belum ada di hatinya. Mungkin tidak
hanya mereka yang kanak-kanak yang belum memahami. Kadang yang dewasa mungkin
juga sama seperti mereka, mungkin lebih hingga lupa karena kesibukan dunia.
Mengenal
Allah bagi Kansha merupakan landasan paling penting untuk diajarkan sejak dini.
Bagaimana mereka kelak akan membela mati-matian agama dan keyakinannya, kalau
Allah saja mungkin belum mereka ‘kenal’. Bagaimana mereka kelak hidup berakhlak
mulia, patuh orang tua, mejadi pemimpin yang adil, pengusaha yang dermawan,
ilmuan yang hebat, kalau mereka belum mencitai Allah? bertumpuk-tumpuk
pertanyaan menghujani pikiran Kansha, menegaskan sebuah langkah kecil yang
harus dia mulai sendiri. Membuka TPA di masjid, saling berbagi ilmu. Dan mulai
saat itulah Kansha semakin bersemangat untuk belajar dan mengajar tentang agama
dan keyakinan yang telah dia peluk selama lebih dari dua puluh tahun.

