Selasa, 24 Juni 2014

Mora Mengenal Allah


            Mendung. Hujan masih malu-malu dan bersembunyi diperaduannya. Kansha mengambangkan pandangan seluas langit membentang sore hari. Sisa waktu yang Kansha nikmati sebelum petang di sambut dengan lantunan adzan Maghrib di desa Sumberagung. Waktu yang mengarahkan bola matanya yang hitam berpadu dengan lonceng terbesar di desanya. Lonceng yang membuat Kansha tercekat perih melihat anak-anak di desanya. Anak-anak yang tidak pernah aku lihat belajar di serambi masjid, kecuali di bulan Ramdhan.
            Kansha bukan seorang ustadzah, bukan lulusan pesantren, bukan pula orang yang sangat fasih dengan ilmu agama. Islam. Dia hanyalah seorang freelance designer. Ah, peristiwa itu seperti baru kemarin terjadi. Kala dia yang masih kecil menikmati hujan yang mengguyur jalan, berbondong-bondong mengangkat payung menutupi jilbab warna-warninya pergi mengaji yang dulunya masih berupa mushola. Tapi, sore itu sungguh berbeda, yang Kansha lihat di depan mata kini remaja gereja depan rumahnya berbondong-bondong memasuki ruangan. Mereka bernyanyi menyebut-nyebut Tuhannya. Iri. Tentu.
            Tentu saja Kansha iri, iri karena penduduk muslim yang lebih banyak dari mereka justru sering membiarkan masjidnya kosong tanpa ada sentuhan ibadah kecuali sholat lima waktu. Itu pun jumlahnya mungkin tak lebih dari 12 orang dengan tak lebih banyak 3 orang pria di dalamnya. Well, bagaimana anak-anak di desa ini cinta dengan agama yang sejak lahir mereka peluk? Akankah Kansha terdiam menanti ajakan remaja lainnya ‘memakmurkan’ masjid? Atau memulainya sendiri, tapi seberapa jauh pengetahuan agamanya untuk mengajari mereka?
            Kenyataannya, Kansha harus memulai sendiri. Dan ketika niat itu sudah berkumpul menjadi bara membakar semangat mengajar anak-anak, seorang pria melangkah ke arah Kansha.
“Mbak Kansha, saya mau bincang-bincang sama mbak Kansha bisa?” kata pria yang pernah menjadi atasan sekaligus tetangganya.
“Oh, iya mas silahkan. Ada apa ya mas?” Kansha mempersilahkannya duduk di kursi teras rumah.
            Air mukanya tampak sungkan membicarakan maksud kedatangannya. Pria ini mulai membuka pembicaraan tentang anaknya Mora. Gadis kecil berponi, itu berulang kali pindah dari masjid satu ke masjid lainnya, untuk belajar mengaji. Alasannya wajar seperti kebanyakan anak pada umumnya. Malas karena jauh atau tidak punya teman dari desanya. Pria ini menaruh harapan jawaban Kansha ‘bersedia mengajar ngaji’ di rumahnya saban habis Maghib hingga Ishak. Ada rasa takut terlihat di wajahnya. Entah ketakutan macam apa itu. Kansha pun juga tidak ingin menolak tawaran ini, meski berbekal pemahaman Kansha yang kurang dari cukup.
“Iya mas, insya Allah lusa bisa di mulai.” Senyum Kansha yakin, toh Mora anak yang cerdas jadi dia rasa tidak begitu sulit mengajarinya mengaji.
            Seusai sholat Kansha raih jilbab hitamnya, bergegas berjalan menyusuri jalan bertanah, menembus petang. Semangat sekali rasa di hati Kansha. Mempunyai murid pribadi, seperti apa rasanya nanti. Pintu rumahnya terbuka lebar. Si gadis berponi itu sedang asyik melihat acara kartun kesukaannya.
“Assalamu’alaikum...” salamnya, gadis berponi yang tahu kedatangan Kansha langsung menghambur berlari masuk di salah satu ruangan rumahnya.
            Mora tidak peduli dengan salam Kansha. Mora hanya berlari lantas kembali ke arah Kansha membawa iqro’ ditangannya, bahkan ketika Kansha masih di teras rumahnya. Seorang ibu muda yang sangat mirip dengan Mora mempersilahkan Kansha masuk.
Senyum terbaiknya  menghiasi wajah tirus Kansha. “Mora mau ngaji kan?” Tanya Kansha.
Malu-malu dia mengganggukan kepala.
“Nah, kalau gitu pakai jilbab ya.” Pinta sehalus-halusnya.
            Anak dengan usia delapan tahun itu mungkin hanya memahami menutup aurat itu hanya untuk pergi ke masjid mengaji, atau saat idul fitri saja. Oh, mungkin saja dia juga belum tahu apa itu menutup aurat. Mungkin jilbab yang Kansha maksud tadi dia pahami sebagai maju muslim. Ya, setidaknya seperti itu yang sering Kansha dengar setiap ngaji diwaktu bulan Ramadhan tiba.
            Mora berdiri mematung di depan Kansha. Tersenyum malu. Kansha pun juga tersenyum. Kaos biru bergambar kelinci dengan lengan sesiku, di padukan celana katun pulkadot biru di bawah lutut, plus jilbab pink yang tidak sampai menutup semua leher belakangnya.
“Aduh cantiknya, siapa yang pakaiin jilbabnya?” puji Kansha yang sekaligus ingin mencari tahu baju yang dia pakai pilihannya sendiri atau bukan.
“Ibu.”
            Glek. Terjawab sudah semua rasa penasaran Kansha. Dia hanya memahami suatu hal kala ibunya dulu mengajari untuk memakai jilbab yang baik, menutup semua tubuhnya dengan kain hingga mata kaki, kecuali telapak tangan dan wajah tiap kali mengaji. Dimanapun itu.
“Besok, Mora pakai baju muslim saja ya? Biar tambah cantik.” Kata Kansha memberi pemahaman yang sedangkal-dangkalnya.
            Mengerti. Dia lantas memulai bacaan iqro’ jilid dua dengan basmalah. Baris demi bari terbaca lancar hingga beberapa lembar berikutnya. Satu, empat huruf harus dibetulkan cara bacanya. Giginya yang tanggal tepat di deretan depan atas tampak menggemaskan ketika dia menyeringai, mencoba menirukan bibir Kansha menucapkan huruf tsa’- sin – syien – shot.
            Cukup untuk hari itu membenarkan bacaan Mora, adzan ishak berkumandang masih lama. Tangan kecil Meltida membolak-balik lembaran iqro’ di depannya. Menunggu pelajaran apa lagi yang akan ia terima dari Kansha.
“Santri.” Kata Kansha seperti biasa ketika dia mengajar bersama teman-teman sewaktu bulan Ramadhan di masjid.
“Siap.” Jawabnya lirih.
“Kok nggak semangat. Semangat dong, anak Sholehah harus semangat. Mau masuk surga masak nggak semangat.” Bujuknya.
            Kansha mengulangi. Mora lantang menjawabnya. Kali ini Kansha mengajaknya bernyanyi rukun islam dengan nada bernyanyi seperti lagu balonku ada lima. Bertepuk tangan berdua. Berdendang dengan riang. Hingga ibunya keluar menyimak anaknya bersemangat.
Rukun islam yang lima, syahadat sholat puasa.. zakat untuk si papa.. haji bagi yang kuasa... siapa belum sholat, deerrrr.. siapa belum zakat,, kan rugi di akhirat, Allah pasti melaknat..
Kembali bernyanyi dua tiga lagu, sampai semangat Mora menyala.
            Kansha berfikir sejenak. Mencari sebuah pertanyaan yang akan menjadi topic pembelajaran selanjutnya. Tentu saja sesimpel mungkin dan semenyenangkan mungkin.
“Syahadat itu bunyinya seperti apa sih Ra?” Tanya Mora pura-pura tidak tahu.
            Mora menunjukan giginya yang tanggal. Menyeringai. Baginya ini pertanyaan yang mudah. Tentu saja karena sering sekali kalimat pernyataan suci ia ucapkan bersama kawan-kawannya. Benar. Fasih dia ucapkan.
“Pinter. Ada berapa sih kalimat syahadat itu Ra?”
            Kali ini matanya berkeliling menerawang plafon-plafon rumahnya, mencari tahu jawaban. Mentok, dia tatap ibunya untuk mencari tahu jawaban.
“Hehehe..” tawa yang polos karena tidak paham.
“Ra, syahadat itu ada dua kalimat. Ada syahadat tauhid dan syahadat rosul. Kalau digabungin jadinya kayak yang di ucapin Mora tadi.” Kansha berhenti sejenak tersenyum. Mencari spidol untuk menulis di papan putih yang sudah disediakan.
“Syahadat tauhid itu bunyinya seperti ini Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah nah kalau syahadat Rosul bunyinya Asyhadu an-na Muhammadarrosuululloh. Jadi dua kalimat syahadat itu bunyinya Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu an-na Muhammadarrosuulullo.”
            Mora mulai paham dan mulai menghafalkan. Tidak butuh waktu lama untuk bisa menghafalnya.
“Nah, syahadat tauhid kan tentang saksi kita kalau nggak ada Tuhan selain Allah. Mora, Tuhan itu ada berapa sih?” Tanya Kansha.
            Diam. Beberapa detik kemudian menyeringai. Tidak tahu. Butuh beberapa menit Kansha mengatur hati. Sungguh dalam hatinya miris melihat bahasa tubuh Mora yang tidak kenal Tuhannya. Allah yang sering dia dengar, belum dia kenal, belum singgah di hatinya. Lantas, Kansha harus dari mana menjelaskannya. Penjelasan yang seperti apa agar di paham?
“Ra, Tuhan itu Allah. Kalau bu guru di sekolah bilang Tuhan, itu mungkin teman Mora ada selain Islam. Bisa jadi ada yang Kristen, Katolik, Budha, atau Hindu. Dan Tuhan atau Allah adanya cuma satu. Tidak punya bapak ibu, tidak punya kakak, juga tidak punya anak. Paham Ra?” dalam hati Kansha was-was, kalau-kalau penjelasannya susah dimengerti Mora.
“Jadi Allah itu siapa Ra?” Tanya Kansha lagi.
“Yang nyiptain aku, bumi, dan semuanya mbak.” Keragu-raguan terdengar dari mulut kecilnya.
“Pinter. Jadi sudah paham kan Allah itu Tuhan yang satu.” Ulangnya. “Kalau gitu, Mora cinta nggak sama Allah?” Tanya Kansha lagi dengan nada sedikit menggodanya.
            Mengangguk.
“Kalau cinta, buktinya apa? Kalau ibu cinta kan Mora minta apa di kasih. Kalau sakit dibawa kedokter. Pokoknya sebisanya ibu dan ayah Mora akan bikin Mora senang terus karena mereka cinta dan sayang sama Mora. Nah, kalau Mora cinta sama Allah, Mora nglakuin apa buat Allah, biar Allah senang?”
            Menggeleng. Muka mulai serius menyimak penjelasann Kansha lagi. Kansha pun mencari kata yang paling sederhana untuk menjelaskannya. Sesederhana mungkin dia ingin ada rasa cinta di hati Mora pada DIA yang maha pengasih dan penyayang.
“Lho, kok geleng- geleng. Ini kan juga bikin Allah senang. Ngaji, sholat lima waktu, selalu dengerin ibu sama ayah. Nggak nakal, terus harus semangat belajar.” Terangnya.
“Belajar juga bikin Allah senang mbak?” matanya membelalak dan akhirnya ada pertanyaan yang dia ajukan.
“Iya dong, kalau rajin belajar nanti Mora kan jadi pinter. Nah, kalau pinter ibu pasti senang, bikin ibu senang kan juga bikin Allah senang. Hayo masak lupa sih surga itu dimana.” Goda Kansha.
“Surga di telapak kaki ibu.” Dia mencoba melihat telapak kaki ibunya, mencoba menggoda ibu yang dia sayangi.
            Suasana menjadi ramai gelak tawa karena ulah Mora. Anak yang tadinya malu-malu kini terlihat ceria dan lebih bersemangat. Berbarengan dengan adzan Ishak, Mora mengemasi iqro’ dan meja kecilnya. Kansha bersiap diri berpamitan dan sekali lagi menegaskan pada Mora tentang Allah, Tuhan yang selalu cinta dan sayang pada makhluk-Nya. Sehingga kita juga harus patuh pada-Nya dan membuat-Nya senang, jangan sampai Allah murka pada kita.
            Dalam langkahnya menyusuri jalan yang semakin gelap. Bunyi jangkrik yang menemani Kansha memahami kesalahan yang tidak pernah dia sadari. Bagaimana berbagai macam pelajaran agama mereka pelajari, mereka hafalkan tapi Allah yang menciptakannya belum sepenuhnya di pahami. Cinta. Mungkin belum ada di hatinya. Mungkin tidak hanya mereka yang kanak-kanak yang belum memahami. Kadang yang dewasa mungkin juga sama seperti mereka, mungkin lebih hingga lupa karena kesibukan dunia.
            Mengenal Allah bagi Kansha merupakan landasan paling penting untuk diajarkan sejak dini. Bagaimana mereka kelak akan membela mati-matian agama dan keyakinannya, kalau Allah saja mungkin belum mereka ‘kenal’. Bagaimana mereka kelak hidup berakhlak mulia, patuh orang tua, mejadi pemimpin yang adil, pengusaha yang dermawan, ilmuan yang hebat, kalau mereka belum mencitai Allah? bertumpuk-tumpuk pertanyaan menghujani pikiran Kansha, menegaskan sebuah langkah kecil yang harus dia mulai sendiri. Membuka TPA di masjid, saling berbagi ilmu. Dan mulai saat itulah Kansha semakin bersemangat untuk belajar dan mengajar tentang agama dan keyakinan yang telah dia peluk selama lebih dari dua puluh tahun.




           




Jumat, 18 April 2014

Pencitraan Perempuan dalam Sampul Tejka-teki Silang di Yogyakarta



ANALISIS

Penulis telah mengamati bahwa perwajahan sampul teka-teki silang di Yogyakarta selama ini selalu menggunakan figur foto model perempuan sebagai elemen visual utama pada sampulnya. Penggunaan figur foto model perempuan dalam sampul tersebut, menjadikan penulis mengidentifikasi dan mencari makna-makna dalam sampul teka-teki silang dengan menggunakan analisis wacana Sara Mills, yang dilengkapi dengan pandangan Michel Foucault, dan Teun A. Van Dijk.

Penggunaan analisis wacana Mills, menjadikan penulis menjadikan empat orang informan penelitian ini sebagai subjek yang memandang, sekaligus menilai tentang objek yang notabene berprofesi sama yaitu sebagai model. Dari pemilihan profesi yang sama tersebut, para informan penelitian ini telah menjadi pembaca teks yang memposisikan diri mereka sebagai seorang model profesional yang mengamati, mengidentifikasi, memaknai figur foto model perempuan dalam sampul teka-teki silang, hingga membandingkannya dengan objek (media massa) yang lain. Sedangkan menurut Foucault dan Van Djik, suatu pandangan. Argumen, atau persepsi terhadap objek yang diamati, tidak lepas dari adanya relasi sosial, kuasa, serta kognisi sosial yang mempengaruhi dan membentuk cara berpikir mereka.
Para pembaca teks ini telah memahami bahwa pose, ekspresi, fashion, background, pemilihan huruf, serta layout dalam sampul teka-teki silang tersebut tidak cocok atau tidak sesuai dari elemen satu dengan elemen lainnya. Penyataan seksis juga sering muncul dengan adanya ekspresi, pose, dan fashion, yang ditampilkan oleh sang model dalam sampul teka-teki silang tersebut. Selain itu, kesan norak, seringkali terucapkan dari pernyataan para informan, ketika mengamati figur foto model perempuan yang ber-fashion kebaratan. Sedangkan ketika mereka mengamati figur foto model perempuan yang mengenakan pakaian tradisi Indonesia, mereka justru menyatakan bagus.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari persepsi para informan yang berbeda-beda dalam menilai figur foto model perempuan sampul tersebut, mereka juga memiliki kesamaan yaitu persepsi mereka ketika menilai figur foto model yang berpakaian tradisi dipandang suatu yang bagus, kalem, dan tidak seksis. Suatu kesamaan antara pembaca teks, model foto sampul teka-teki silang, fotografer, serta produsen media bahwa pakaian tradisi mampu membatasi ruang gerak seorang model, fotografer, maupun produsen media ketika dalam menciptakan suatu pose dan ekspresi karena di dalamnya masih terdapat nilai dan norma yang berlaku di masyarakat Indonesia.
Suatu argumen ketidakterimaan oleh pembaca teks juga tampak karena ia menginginkan peletakan figur foto model perempuan dalam sampul tersebut, seharusnya serupa dengan peletakan figur foto dalam sampul majalah pada umumnya, misalnya majalah Aneka atau lainnya, sehingga dalam hal ini muncul suatu pembanding bagaimana figur foto model seharusnya diletakan. Selanjutnya dalam pernyataan para pembaca teks tentang sumber foto yang diperoleh dari internet atau googling berkaitan dengan kontrak kerja sang model dengan klien yang telah mereka pahami.
Mengamati beberapa pernyataan dari para pembaca teks mengenai pembandingan sampul teka-teki silang dengan sampul majalah pada umumnya, maka sampul teka-teki silang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai sampul buku, karena sampul teka-teki silang tersebut desain sampulnya lebih banyak mengadopsi desain sampul pada majalah. Fungsi identitas dari sebuah sampul majalah tidak sejelas fungsi sampul buku yang biasanya diwakili dengan adanya pencantuman nama penerbit, nama pengarang atau desainer sampul, karena pada sampul majalah fungsi identitas dapat dilihat dari penggunaan nama majalah itu sendiri.
Penulis mengamati dan membandingkan sampul teka-teki silang ini dengan sampul teka-teki silang terbitan Kompas, maka secara garis besar kedua sampul tersebut memiliki kesamaan, yaitu visualisasi sampul tersebut tidak mencerminkan dari isinya. Desain sampul teka-teki silang terbitan Kompas tidak menggunakan visualisasi figur foto, melainkan menggunakan  ilustrasi, kedua sampul teka-teki silang tersebut tetap sama yang mana mengfungsikan elemen visual sampulnya sebagai daya tarik atau sebagai fungsi pemasaran. Hanya saja pada sampul teka-teki silang terbitan Kompas fungsi sampul sebagai identitas terpenuhi dengan adanya nama penerbit. Dapat disimpulkan bahwa fungsi sampul teka-teki silang ini berbeda desain sampulnya karena jelas bahwa segmentasi pemasarannya juga berbeda, selain itu, desain sampul yang tidak sesuai dengan isinya (termasuk teka-teki silang terbitan Kompas) dapat dipahami sebagai suatu yang wajar karena cakupan pertanyaan yang ada pada permainan teka-teki silang sangat beraneka ragam serta mencakup segala aspek kehidupan.

KESIMPULAN 
Setelah melakukan identifikasi, pemaknaan dari pembacaan teks oleh para informan, hingga analisis data, dapat disimpulkan bahwa citra perempuan pada sampul teka-teki silang di Yogyakarta tidak memenuhi tiga kriteria sampul. Tidak adanya fungsi identitas dari sampul tersebut membuat itu sendiri menjadi teka-teki siapa produsen teka-teki silang itu. Fungsi komunikasi terwakili oleh adanya elemen verbal yang menggunakan seruan tidak langsung pada target audiennya. Fungsi pemasarannya jelas terwakili dengan visualisasi sampul berupa figur foto model perempuan. Desain sampul yang tidak mencerminkan isinya juga terjadi pada desain sampul teka-teki silang terbitan lainnya seperti terbitan dari Kompas atau Inggris, karena cakupan konten pertanyaan yang sangat beragam dan luas. Hal itu dijadikan suatu yang commen sense bahkan menjadi ciri khas tersendiri bagi teka-teki silang.
            Penggunaan figur foto model perempuan itu sendiri dinilai norak karena adanya pengetahuan, pemahaman, serta konstruksi sosial yang melatarbelakangi muncul penilaian tersebut. Citra perempuan cantik, bertubuh langsing, dan menarik dijadikan sebagai patokan untuk menjadi seorang model profesional. Yang mana model perempuan tersebut kemudian dimanfaatkan oleh produsen media (teka-teki silang) untuk dijadikan sebagai ‘daya tarik’. Penggambaran-penggambaran seperti yang diungkapkan oleh para informan penelitian ini hampir serupa dengan penelitian Senja Aprela, bahwa situasi sosial budaya menjadi titik tolak pengetahuan yang dipinjam oleh produsen makna dalam menghadirkan citra perempuan dalam sampul teka-teki silang dan segala aspek visual maupun verbal lainnya. Pernyataan-pernyataan para informan juga tidak lepas dari pengaruh adanya budaya laten tentang dunia model, serta mitos kecantikan perempuan yang telah dikonstruksikan media selama ini, sehingga dapat dikatakan bahwa sosial budaya suatu lingkungan tertentu dapat mempengaruhi pola pikir seseorang dalam menyampaikan suatu argumen dalam konteks tertentu (dalam penelitian ini, argumen model dalam konteks sampul teka-teki silang di Yogyakarta).
            Analisis wacana milik Sara Mills ini, membantu penulis menempatkan informan dalam penelitian ini sebagai subjek yang memandang objek,  dan ketika para informan ini menjadi pembaca teks dari objek itu (sampul teka-teki silang) ditemukan bahwa mereka menempatkan dirinya sebagai seorang model profesional yang mengamati dan menilai bagaimana figur foto model tersebut tervisualisasikan. Para informan penelitian ini juga menghubungkan elemen satu dengan elemen lainnya sebagai suatu ketidaksesuaian dengan pengetahuan dan pengalaman yang mereka pahami selama menjadi model. Kesan berbeda, aneh, tidak cocok, norak, hingga argumen tentang perolehan foto secara tidak resmi, membuat mereka memberikan jarak terhadap sampul teka-teki silang karena adanya pola pikir dan konstruksi sosial yang masih berlaku saat ini.


Daftar pustaka
Buku
Budiman, Kris. Feminografi, Yogyakarta:Pustaka Pelajar Offset, 1999
Danesi, Marcel. Pesan, Tanda, dan Makna:Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi, Yogyakarta:Jalasutra, 2012
Eiyanto. Analisis Wacana:Pengantar Analisis Teks Media.Yogyakarta:LKIS,2012
Fiske, John. Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta:Raja Grafindo Persada,2012
Gamman, Lorraine. Marshment, Margaret. Tatapan Perempuan:Perempuan sebagai Penonton Budaya Populer, Yogyakarta:Jalasutra, 2010
Ibrahim, Idi Subandy. Kritik Budaya Komunikasi: Budaya, Media, dan Gaya Hidup dalam Proses Demokrasi di Indonesia, Yogyakarta:Jalasutra, 2011
J. Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung:Remaja Rosdakarya Offset, 2012
Kusrianto, Adi. Pengantar Desain Komunikasi Visual, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2009
Lombard, Denys. Nusa Jawa Silang Budaya:Batas-batas Pembaratan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008
Melliana, Annastasia. Menjelajah Tubuh Perempuan: Perempuan dan Mitos Kecantikan, Yogyakarta:LKIS,2006
Mills, Sara. Discourse, New York:Routledge, 2010
Power, Alan. Front Cover, Octupus Publishing Group, London, 2001
Rustan, Surianto. Layout:Dasar dan Penerapannya, Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2008
Sihombing, Danton. Tipografi dalam Desain Grafis, Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2001
Sunardi, St. Semiotika Negativa, Yogyakarta:Penerbit Buku Baik, 2004

Buku tidak diterbitkan
Modul Modeling, LKP Colour Model Management, Asmat Pro, Yogyakarta, 2010

Tugas Akhir dan Tesis
Nuria Indah Karunia Dewi, “Kajian Semiotika Cover Novel Tetralogi Laskar Pelangi”, Tugas akhir S-1 Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2012
Senja Aprela Agustin, “Representasi Perempuan pada Desain Kemasan Kiranti”, Tesis S-2 Program Studi Magister Desain, Institut Teknologi Bandung, 2011
Data Internet
http://sejarah.kompasiana.com/2011/01/18/teka-teki-silang-334199.html diakses pada tanggal 11 September 2012 jam 22.52
dibutuhkan-untuk-menjadi-model/ diakses pada tanggal 17 Februari 2013
jam 10.07 WIB
perusahaan.html diakses tanggal 25 Juli 2013 jam 08.34 WIB
pro.html diakses pada tanggal 17 Februari 2013 pada jam 10.25 WIB
Februari 2013 jam 10.02 WIB


Sabtu, 12 April 2014

Kidung Para Pelupa

Malam semakin larut, api semakin berkobar, genderang bertabuh dumplak-dumplak dan penari mulai berlenggok dengan gincu menggoda. Sejenak Panglima berkoar pasukan kembali berbaris, memberi penghormatan pada kawan yang gugur. Ya, ini hanyalah dongeng di bumi para pelupa.

Semua rakyat bekerja hingga memeras darah untuk mendepatkan seonggok koin. Koin-koin mereka tabung berharap akan semakin membukit. Anak-anak disekolahkan tinggi-tinggi berharap dapat bekerja di samping raja. Anak-anak yang berharap kejayaan masa depan berlomba menjadi yang terbaik, membuktikan pada orang tua mereka patut dibanggakan. Tapi sang anak lupa, kalau mereka hanyalah anak-anak yang dituntut dewasa. Anak-anak yang lupa cara bermain karena hanya berkawan dengan alat yang dinamakan kecanggihan.

Hingga suatu hari sang raja mengutus patihnya pergi berkeliling memantau keadaan rakyat. Semua aman, semua terkendali. Lorong-lorong jalanan bersih dari “tikus-tikus” got yang berkeliaran. Sawah-sawah subur dengan padi menguning, bebek-bebek di giring menyusuri jalan beraspal sesuai komando pemilik. Tapi sang patih lupa, lupa dari mana pupuk yang mereka dapatkan dan kemana arah bebek-bebek itu digiring.
Lupa, karena semua terlihat teratur.

Dengan kuda hitam terhebatnya patih menyusuri jalan kota, memacu kuda semakin kencang memberi kabar gembira pada sang raja. Di atas lututnya patih melopor dan raja dengan senyumnya yang ponggah memberikan selamat dan hadiah pada semua Patih hingga para Kuwu (pemimpin desa) karena berhasil mengatur rakyatnya dengan tertib dan aman. Mereka kembali menggelar pesta, para penyanyi dan penari diundang dari pelosok negeri untuk memperlihatkan betapa kayanya keanekaragaman negeri itu.

Ditengah riuhnya pesta seorang anak nagara berdiri ditengah panggung. Bukan untuk menyanyi bukan untuk menari, tapi untuk membaca kidung yang telah ia tulis.

Terangkanlah padaku dari segala nagara
Siapa yang mampu memberimu tanda
Jika pendengaran, penglihatan, dan hatimu tertutup oleh harta
Tak peduli, kau tetap pungut pajak untuk mengenyangkan perut
Tak peduli dari mana pupuk yang kami dapat
Kau tetap berpesta, melupa lalu menggila di atas perutmu yang gendut
Jika negeri umpama siang, maka tunggulah waktu malammu untuk“beristirahat”

Raja mulai gusar, dadanya kembang
kempis. Si anak ditangkap, genderang berhenti, penari berlari. Malam telah datang, uang telah hilang. Dongeng telah selesai, dan raja telah “beristirahat”. Para cucu tiap nagara tak akan pernah lupa dengan rajanya. Mereka terus mengingat pahitnya hidup nini akinya, mencoba mengembalikan ingatan yang hilang. Tapi percuma, para pelupa semakin banyak, hingga Kuwu pun ikut lupa dengan rakyatnya. Siapa yang salah? Tak ada yang salah, karena ini hanyalah dongeng anak nagara.