ANALISIS
Penulis
telah mengamati bahwa perwajahan sampul teka-teki silang di Yogyakarta selama
ini selalu menggunakan figur foto model perempuan sebagai elemen visual utama
pada sampulnya. Penggunaan figur foto model perempuan dalam sampul tersebut,
menjadikan penulis mengidentifikasi dan mencari makna-makna dalam sampul
teka-teki silang dengan menggunakan analisis wacana Sara Mills, yang dilengkapi
dengan pandangan Michel Foucault, dan Teun A. Van Dijk.
Penggunaan
analisis wacana Mills, menjadikan penulis menjadikan empat orang informan
penelitian ini sebagai subjek yang memandang, sekaligus menilai tentang objek
yang notabene berprofesi sama yaitu sebagai model. Dari pemilihan profesi yang
sama tersebut, para informan penelitian ini telah menjadi pembaca teks yang
memposisikan diri mereka sebagai seorang model profesional yang mengamati,
mengidentifikasi, memaknai figur foto model perempuan dalam sampul teka-teki
silang, hingga membandingkannya dengan objek (media massa) yang lain. Sedangkan
menurut Foucault dan Van Djik, suatu pandangan. Argumen, atau persepsi terhadap
objek yang diamati, tidak lepas dari adanya relasi sosial, kuasa, serta kognisi
sosial yang mempengaruhi dan membentuk cara berpikir mereka.
Para
pembaca teks ini telah memahami bahwa pose, ekspresi, fashion, background, pemilihan huruf, serta layout dalam sampul teka-teki silang tersebut tidak cocok atau
tidak sesuai dari elemen satu dengan elemen lainnya. Penyataan seksis juga
sering muncul dengan adanya ekspresi, pose, dan fashion, yang ditampilkan oleh sang model dalam sampul teka-teki
silang tersebut. Selain itu, kesan norak, seringkali terucapkan dari pernyataan
para informan, ketika mengamati figur foto model perempuan yang ber-fashion kebaratan. Sedangkan ketika
mereka mengamati figur foto model perempuan yang mengenakan pakaian tradisi
Indonesia, mereka justru menyatakan bagus.
Sehingga
dapat disimpulkan bahwa dari persepsi para informan yang berbeda-beda dalam
menilai figur foto model perempuan sampul tersebut, mereka juga memiliki
kesamaan yaitu persepsi mereka ketika menilai figur foto model yang berpakaian
tradisi dipandang suatu yang bagus, kalem, dan tidak seksis. Suatu kesamaan
antara pembaca teks, model foto sampul teka-teki silang, fotografer, serta
produsen media bahwa pakaian tradisi mampu membatasi ruang gerak seorang model,
fotografer, maupun produsen media ketika dalam menciptakan suatu pose dan
ekspresi karena di dalamnya masih terdapat nilai dan norma yang berlaku di
masyarakat Indonesia.
Suatu
argumen ketidakterimaan oleh pembaca teks juga tampak karena ia menginginkan
peletakan figur foto model perempuan dalam sampul tersebut, seharusnya serupa
dengan peletakan figur foto dalam sampul majalah pada umumnya, misalnya majalah
Aneka atau lainnya, sehingga dalam hal ini muncul suatu pembanding bagaimana
figur foto model seharusnya diletakan. Selanjutnya dalam pernyataan para
pembaca teks tentang sumber foto yang diperoleh dari internet atau googling berkaitan dengan kontrak kerja
sang model dengan klien yang telah mereka pahami.
Mengamati
beberapa pernyataan dari para pembaca teks mengenai pembandingan sampul
teka-teki silang dengan sampul majalah pada umumnya, maka sampul teka-teki
silang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai sampul buku, karena sampul
teka-teki silang tersebut desain sampulnya lebih banyak mengadopsi desain
sampul pada majalah. Fungsi
identitas dari sebuah sampul majalah tidak sejelas fungsi sampul buku yang
biasanya diwakili dengan adanya pencantuman nama penerbit, nama pengarang atau
desainer sampul, karena
pada sampul majalah fungsi identitas dapat dilihat dari penggunaan nama majalah
itu sendiri.
Penulis
mengamati dan membandingkan sampul teka-teki silang ini dengan sampul teka-teki
silang terbitan Kompas, maka secara garis besar kedua sampul tersebut memiliki
kesamaan, yaitu visualisasi sampul tersebut tidak mencerminkan dari isinya. Desain
sampul teka-teki silang terbitan Kompas tidak menggunakan visualisasi figur
foto, melainkan menggunakan ilustrasi,
kedua sampul teka-teki silang tersebut tetap sama yang mana mengfungsikan elemen
visual sampulnya sebagai daya tarik atau sebagai fungsi pemasaran. Hanya saja
pada sampul teka-teki silang terbitan Kompas fungsi sampul sebagai identitas
terpenuhi dengan adanya nama penerbit. Dapat disimpulkan bahwa fungsi sampul teka-teki silang ini
berbeda desain sampulnya karena jelas bahwa segmentasi pemasarannya juga
berbeda, selain
itu, desain sampul yang tidak sesuai dengan isinya (termasuk teka-teki silang
terbitan Kompas) dapat dipahami sebagai suatu yang wajar karena cakupan
pertanyaan yang ada pada permainan teka-teki silang sangat beraneka ragam serta
mencakup segala aspek kehidupan.
KESIMPULAN
Setelah melakukan identifikasi, pemaknaan dari pembacaan teks
oleh para informan, hingga analisis data, dapat disimpulkan bahwa citra perempuan
pada sampul teka-teki silang di Yogyakarta tidak memenuhi tiga kriteria sampul.
Tidak adanya fungsi identitas dari sampul tersebut membuat itu sendiri menjadi
teka-teki siapa produsen teka-teki silang itu. Fungsi komunikasi terwakili oleh
adanya elemen verbal yang menggunakan seruan tidak langsung pada target
audiennya. Fungsi pemasarannya jelas terwakili dengan visualisasi sampul berupa
figur foto model perempuan. Desain sampul yang tidak mencerminkan
isinya juga terjadi pada desain sampul teka-teki silang terbitan lainnya
seperti terbitan dari Kompas atau Inggris, karena cakupan konten pertanyaan
yang sangat beragam dan luas. Hal
itu dijadikan suatu yang commen sense
bahkan menjadi ciri khas tersendiri bagi teka-teki silang.
Penggunaan figur foto model perempuan itu sendiri dinilai
norak karena adanya pengetahuan, pemahaman, serta konstruksi sosial yang
melatarbelakangi muncul penilaian tersebut. Citra perempuan cantik, bertubuh
langsing, dan menarik dijadikan sebagai patokan untuk menjadi seorang model
profesional. Yang mana model perempuan tersebut kemudian dimanfaatkan oleh
produsen media (teka-teki silang) untuk dijadikan sebagai ‘daya tarik’.
Penggambaran-penggambaran seperti yang diungkapkan oleh para informan
penelitian ini hampir serupa dengan penelitian Senja Aprela, bahwa situasi
sosial budaya menjadi titik tolak pengetahuan yang dipinjam oleh produsen makna
dalam menghadirkan citra perempuan dalam sampul teka-teki silang dan segala
aspek visual maupun verbal lainnya. Pernyataan-pernyataan para informan juga
tidak lepas dari pengaruh adanya budaya laten tentang dunia model, serta mitos
kecantikan perempuan yang telah dikonstruksikan media selama ini, sehingga
dapat dikatakan bahwa sosial budaya suatu lingkungan tertentu dapat
mempengaruhi pola pikir seseorang dalam menyampaikan suatu argumen dalam
konteks tertentu (dalam penelitian ini, argumen model dalam konteks sampul
teka-teki silang di Yogyakarta).
Analisis wacana milik Sara Mills ini, membantu penulis
menempatkan informan dalam penelitian ini sebagai subjek yang memandang objek, dan ketika para informan ini menjadi pembaca
teks dari objek itu (sampul teka-teki silang) ditemukan bahwa mereka
menempatkan dirinya sebagai seorang model profesional yang mengamati dan
menilai bagaimana figur foto model tersebut tervisualisasikan. Para informan
penelitian ini juga menghubungkan elemen satu dengan elemen lainnya sebagai
suatu ketidaksesuaian dengan pengetahuan dan pengalaman yang mereka pahami
selama menjadi model. Kesan berbeda, aneh, tidak cocok, norak, hingga argumen
tentang perolehan foto secara tidak resmi, membuat mereka memberikan jarak terhadap
sampul teka-teki silang karena adanya pola pikir dan konstruksi sosial yang
masih berlaku saat ini.
Daftar pustaka
Buku
Budiman,
Kris. Feminografi, Yogyakarta:Pustaka
Pelajar Offset, 1999
Danesi,
Marcel. Pesan, Tanda, dan Makna:Buku Teks
Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi, Yogyakarta:Jalasutra, 2012
Eiyanto.
Analisis Wacana:Pengantar Analisis Teks Media.Yogyakarta:LKIS,2012
Fiske,
John. Pengantar Ilmu Komunikasi,
Jakarta:Raja Grafindo Persada,2012
Gamman,
Lorraine. Marshment, Margaret. Tatapan
Perempuan:Perempuan sebagai Penonton Budaya Populer, Yogyakarta:Jalasutra,
2010
Ibrahim,
Idi Subandy. Kritik Budaya Komunikasi:
Budaya, Media, dan Gaya Hidup dalam Proses Demokrasi di Indonesia,
Yogyakarta:Jalasutra, 2011
J.
Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian
Kualitatif, Bandung:Remaja Rosdakarya Offset, 2012
Kusrianto,
Adi. Pengantar Desain Komunikasi Visual,
Yogyakarta: Penerbit Andi, 2009
Lombard,
Denys. Nusa Jawa Silang
Budaya:Batas-batas Pembaratan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008
Melliana,
Annastasia. Menjelajah Tubuh Perempuan:
Perempuan dan Mitos Kecantikan, Yogyakarta:LKIS,2006
Mills, Sara. Discourse, New York:Routledge, 2010
Power,
Alan. Front Cover, Octupus Publishing
Group, London, 2001
Rustan,
Surianto. Layout:Dasar dan Penerapannya,
Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2008
Sihombing,
Danton. Tipografi dalam Desain Grafis,
Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2001
Sunardi,
St. Semiotika Negativa,
Yogyakarta:Penerbit Buku Baik, 2004
Buku tidak diterbitkan
Modul Modeling, LKP
Colour Model Management, Asmat Pro,
Yogyakarta, 2010
Tugas
Akhir dan Tesis
Nuria
Indah Karunia Dewi, “Kajian Semiotika Cover Novel Tetralogi Laskar Pelangi”,
Tugas akhir S-1 Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Desain, Fakultas
Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2012
Senja
Aprela Agustin, “Representasi Perempuan pada Desain Kemasan Kiranti”, Tesis S-2
Program Studi Magister Desain, Institut Teknologi Bandung, 2011
Data
Internet
http://unik247.blogspot.com/2012/03/mengetahui-sejarah-teka-teki-silang-tts.html
diakses pada tanggal 11 September 2012 jam 22.53
http://sejarah.kompasiana.com/2011/01/18/teka-teki-silang-334199.html
diakses pada tanggal 11 September 2012 jam 22.52
dibutuhkan-untuk-menjadi-model/
diakses pada tanggal 17 Februari 2013
jam
10.07 WIB
perusahaan.html
diakses tanggal 25 Juli 2013 jam 08.34 WIB
pro.html
diakses pada tanggal 17 Februari 2013 pada
jam 10.25 WIB
Februari
2013 jam 10.02 WIB

