Jumat, 18 April 2014

Pencitraan Perempuan dalam Sampul Tejka-teki Silang di Yogyakarta



ANALISIS

Penulis telah mengamati bahwa perwajahan sampul teka-teki silang di Yogyakarta selama ini selalu menggunakan figur foto model perempuan sebagai elemen visual utama pada sampulnya. Penggunaan figur foto model perempuan dalam sampul tersebut, menjadikan penulis mengidentifikasi dan mencari makna-makna dalam sampul teka-teki silang dengan menggunakan analisis wacana Sara Mills, yang dilengkapi dengan pandangan Michel Foucault, dan Teun A. Van Dijk.

Penggunaan analisis wacana Mills, menjadikan penulis menjadikan empat orang informan penelitian ini sebagai subjek yang memandang, sekaligus menilai tentang objek yang notabene berprofesi sama yaitu sebagai model. Dari pemilihan profesi yang sama tersebut, para informan penelitian ini telah menjadi pembaca teks yang memposisikan diri mereka sebagai seorang model profesional yang mengamati, mengidentifikasi, memaknai figur foto model perempuan dalam sampul teka-teki silang, hingga membandingkannya dengan objek (media massa) yang lain. Sedangkan menurut Foucault dan Van Djik, suatu pandangan. Argumen, atau persepsi terhadap objek yang diamati, tidak lepas dari adanya relasi sosial, kuasa, serta kognisi sosial yang mempengaruhi dan membentuk cara berpikir mereka.
Para pembaca teks ini telah memahami bahwa pose, ekspresi, fashion, background, pemilihan huruf, serta layout dalam sampul teka-teki silang tersebut tidak cocok atau tidak sesuai dari elemen satu dengan elemen lainnya. Penyataan seksis juga sering muncul dengan adanya ekspresi, pose, dan fashion, yang ditampilkan oleh sang model dalam sampul teka-teki silang tersebut. Selain itu, kesan norak, seringkali terucapkan dari pernyataan para informan, ketika mengamati figur foto model perempuan yang ber-fashion kebaratan. Sedangkan ketika mereka mengamati figur foto model perempuan yang mengenakan pakaian tradisi Indonesia, mereka justru menyatakan bagus.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari persepsi para informan yang berbeda-beda dalam menilai figur foto model perempuan sampul tersebut, mereka juga memiliki kesamaan yaitu persepsi mereka ketika menilai figur foto model yang berpakaian tradisi dipandang suatu yang bagus, kalem, dan tidak seksis. Suatu kesamaan antara pembaca teks, model foto sampul teka-teki silang, fotografer, serta produsen media bahwa pakaian tradisi mampu membatasi ruang gerak seorang model, fotografer, maupun produsen media ketika dalam menciptakan suatu pose dan ekspresi karena di dalamnya masih terdapat nilai dan norma yang berlaku di masyarakat Indonesia.
Suatu argumen ketidakterimaan oleh pembaca teks juga tampak karena ia menginginkan peletakan figur foto model perempuan dalam sampul tersebut, seharusnya serupa dengan peletakan figur foto dalam sampul majalah pada umumnya, misalnya majalah Aneka atau lainnya, sehingga dalam hal ini muncul suatu pembanding bagaimana figur foto model seharusnya diletakan. Selanjutnya dalam pernyataan para pembaca teks tentang sumber foto yang diperoleh dari internet atau googling berkaitan dengan kontrak kerja sang model dengan klien yang telah mereka pahami.
Mengamati beberapa pernyataan dari para pembaca teks mengenai pembandingan sampul teka-teki silang dengan sampul majalah pada umumnya, maka sampul teka-teki silang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai sampul buku, karena sampul teka-teki silang tersebut desain sampulnya lebih banyak mengadopsi desain sampul pada majalah. Fungsi identitas dari sebuah sampul majalah tidak sejelas fungsi sampul buku yang biasanya diwakili dengan adanya pencantuman nama penerbit, nama pengarang atau desainer sampul, karena pada sampul majalah fungsi identitas dapat dilihat dari penggunaan nama majalah itu sendiri.
Penulis mengamati dan membandingkan sampul teka-teki silang ini dengan sampul teka-teki silang terbitan Kompas, maka secara garis besar kedua sampul tersebut memiliki kesamaan, yaitu visualisasi sampul tersebut tidak mencerminkan dari isinya. Desain sampul teka-teki silang terbitan Kompas tidak menggunakan visualisasi figur foto, melainkan menggunakan  ilustrasi, kedua sampul teka-teki silang tersebut tetap sama yang mana mengfungsikan elemen visual sampulnya sebagai daya tarik atau sebagai fungsi pemasaran. Hanya saja pada sampul teka-teki silang terbitan Kompas fungsi sampul sebagai identitas terpenuhi dengan adanya nama penerbit. Dapat disimpulkan bahwa fungsi sampul teka-teki silang ini berbeda desain sampulnya karena jelas bahwa segmentasi pemasarannya juga berbeda, selain itu, desain sampul yang tidak sesuai dengan isinya (termasuk teka-teki silang terbitan Kompas) dapat dipahami sebagai suatu yang wajar karena cakupan pertanyaan yang ada pada permainan teka-teki silang sangat beraneka ragam serta mencakup segala aspek kehidupan.

KESIMPULAN 
Setelah melakukan identifikasi, pemaknaan dari pembacaan teks oleh para informan, hingga analisis data, dapat disimpulkan bahwa citra perempuan pada sampul teka-teki silang di Yogyakarta tidak memenuhi tiga kriteria sampul. Tidak adanya fungsi identitas dari sampul tersebut membuat itu sendiri menjadi teka-teki siapa produsen teka-teki silang itu. Fungsi komunikasi terwakili oleh adanya elemen verbal yang menggunakan seruan tidak langsung pada target audiennya. Fungsi pemasarannya jelas terwakili dengan visualisasi sampul berupa figur foto model perempuan. Desain sampul yang tidak mencerminkan isinya juga terjadi pada desain sampul teka-teki silang terbitan lainnya seperti terbitan dari Kompas atau Inggris, karena cakupan konten pertanyaan yang sangat beragam dan luas. Hal itu dijadikan suatu yang commen sense bahkan menjadi ciri khas tersendiri bagi teka-teki silang.
            Penggunaan figur foto model perempuan itu sendiri dinilai norak karena adanya pengetahuan, pemahaman, serta konstruksi sosial yang melatarbelakangi muncul penilaian tersebut. Citra perempuan cantik, bertubuh langsing, dan menarik dijadikan sebagai patokan untuk menjadi seorang model profesional. Yang mana model perempuan tersebut kemudian dimanfaatkan oleh produsen media (teka-teki silang) untuk dijadikan sebagai ‘daya tarik’. Penggambaran-penggambaran seperti yang diungkapkan oleh para informan penelitian ini hampir serupa dengan penelitian Senja Aprela, bahwa situasi sosial budaya menjadi titik tolak pengetahuan yang dipinjam oleh produsen makna dalam menghadirkan citra perempuan dalam sampul teka-teki silang dan segala aspek visual maupun verbal lainnya. Pernyataan-pernyataan para informan juga tidak lepas dari pengaruh adanya budaya laten tentang dunia model, serta mitos kecantikan perempuan yang telah dikonstruksikan media selama ini, sehingga dapat dikatakan bahwa sosial budaya suatu lingkungan tertentu dapat mempengaruhi pola pikir seseorang dalam menyampaikan suatu argumen dalam konteks tertentu (dalam penelitian ini, argumen model dalam konteks sampul teka-teki silang di Yogyakarta).
            Analisis wacana milik Sara Mills ini, membantu penulis menempatkan informan dalam penelitian ini sebagai subjek yang memandang objek,  dan ketika para informan ini menjadi pembaca teks dari objek itu (sampul teka-teki silang) ditemukan bahwa mereka menempatkan dirinya sebagai seorang model profesional yang mengamati dan menilai bagaimana figur foto model tersebut tervisualisasikan. Para informan penelitian ini juga menghubungkan elemen satu dengan elemen lainnya sebagai suatu ketidaksesuaian dengan pengetahuan dan pengalaman yang mereka pahami selama menjadi model. Kesan berbeda, aneh, tidak cocok, norak, hingga argumen tentang perolehan foto secara tidak resmi, membuat mereka memberikan jarak terhadap sampul teka-teki silang karena adanya pola pikir dan konstruksi sosial yang masih berlaku saat ini.


Daftar pustaka
Buku
Budiman, Kris. Feminografi, Yogyakarta:Pustaka Pelajar Offset, 1999
Danesi, Marcel. Pesan, Tanda, dan Makna:Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi, Yogyakarta:Jalasutra, 2012
Eiyanto. Analisis Wacana:Pengantar Analisis Teks Media.Yogyakarta:LKIS,2012
Fiske, John. Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta:Raja Grafindo Persada,2012
Gamman, Lorraine. Marshment, Margaret. Tatapan Perempuan:Perempuan sebagai Penonton Budaya Populer, Yogyakarta:Jalasutra, 2010
Ibrahim, Idi Subandy. Kritik Budaya Komunikasi: Budaya, Media, dan Gaya Hidup dalam Proses Demokrasi di Indonesia, Yogyakarta:Jalasutra, 2011
J. Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung:Remaja Rosdakarya Offset, 2012
Kusrianto, Adi. Pengantar Desain Komunikasi Visual, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2009
Lombard, Denys. Nusa Jawa Silang Budaya:Batas-batas Pembaratan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008
Melliana, Annastasia. Menjelajah Tubuh Perempuan: Perempuan dan Mitos Kecantikan, Yogyakarta:LKIS,2006
Mills, Sara. Discourse, New York:Routledge, 2010
Power, Alan. Front Cover, Octupus Publishing Group, London, 2001
Rustan, Surianto. Layout:Dasar dan Penerapannya, Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2008
Sihombing, Danton. Tipografi dalam Desain Grafis, Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2001
Sunardi, St. Semiotika Negativa, Yogyakarta:Penerbit Buku Baik, 2004

Buku tidak diterbitkan
Modul Modeling, LKP Colour Model Management, Asmat Pro, Yogyakarta, 2010

Tugas Akhir dan Tesis
Nuria Indah Karunia Dewi, “Kajian Semiotika Cover Novel Tetralogi Laskar Pelangi”, Tugas akhir S-1 Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2012
Senja Aprela Agustin, “Representasi Perempuan pada Desain Kemasan Kiranti”, Tesis S-2 Program Studi Magister Desain, Institut Teknologi Bandung, 2011
Data Internet
http://sejarah.kompasiana.com/2011/01/18/teka-teki-silang-334199.html diakses pada tanggal 11 September 2012 jam 22.52
dibutuhkan-untuk-menjadi-model/ diakses pada tanggal 17 Februari 2013
jam 10.07 WIB
perusahaan.html diakses tanggal 25 Juli 2013 jam 08.34 WIB
pro.html diakses pada tanggal 17 Februari 2013 pada jam 10.25 WIB
Februari 2013 jam 10.02 WIB


Sabtu, 12 April 2014

Kidung Para Pelupa

Malam semakin larut, api semakin berkobar, genderang bertabuh dumplak-dumplak dan penari mulai berlenggok dengan gincu menggoda. Sejenak Panglima berkoar pasukan kembali berbaris, memberi penghormatan pada kawan yang gugur. Ya, ini hanyalah dongeng di bumi para pelupa.

Semua rakyat bekerja hingga memeras darah untuk mendepatkan seonggok koin. Koin-koin mereka tabung berharap akan semakin membukit. Anak-anak disekolahkan tinggi-tinggi berharap dapat bekerja di samping raja. Anak-anak yang berharap kejayaan masa depan berlomba menjadi yang terbaik, membuktikan pada orang tua mereka patut dibanggakan. Tapi sang anak lupa, kalau mereka hanyalah anak-anak yang dituntut dewasa. Anak-anak yang lupa cara bermain karena hanya berkawan dengan alat yang dinamakan kecanggihan.

Hingga suatu hari sang raja mengutus patihnya pergi berkeliling memantau keadaan rakyat. Semua aman, semua terkendali. Lorong-lorong jalanan bersih dari “tikus-tikus” got yang berkeliaran. Sawah-sawah subur dengan padi menguning, bebek-bebek di giring menyusuri jalan beraspal sesuai komando pemilik. Tapi sang patih lupa, lupa dari mana pupuk yang mereka dapatkan dan kemana arah bebek-bebek itu digiring.
Lupa, karena semua terlihat teratur.

Dengan kuda hitam terhebatnya patih menyusuri jalan kota, memacu kuda semakin kencang memberi kabar gembira pada sang raja. Di atas lututnya patih melopor dan raja dengan senyumnya yang ponggah memberikan selamat dan hadiah pada semua Patih hingga para Kuwu (pemimpin desa) karena berhasil mengatur rakyatnya dengan tertib dan aman. Mereka kembali menggelar pesta, para penyanyi dan penari diundang dari pelosok negeri untuk memperlihatkan betapa kayanya keanekaragaman negeri itu.

Ditengah riuhnya pesta seorang anak nagara berdiri ditengah panggung. Bukan untuk menyanyi bukan untuk menari, tapi untuk membaca kidung yang telah ia tulis.

Terangkanlah padaku dari segala nagara
Siapa yang mampu memberimu tanda
Jika pendengaran, penglihatan, dan hatimu tertutup oleh harta
Tak peduli, kau tetap pungut pajak untuk mengenyangkan perut
Tak peduli dari mana pupuk yang kami dapat
Kau tetap berpesta, melupa lalu menggila di atas perutmu yang gendut
Jika negeri umpama siang, maka tunggulah waktu malammu untuk“beristirahat”

Raja mulai gusar, dadanya kembang
kempis. Si anak ditangkap, genderang berhenti, penari berlari. Malam telah datang, uang telah hilang. Dongeng telah selesai, dan raja telah “beristirahat”. Para cucu tiap nagara tak akan pernah lupa dengan rajanya. Mereka terus mengingat pahitnya hidup nini akinya, mencoba mengembalikan ingatan yang hilang. Tapi percuma, para pelupa semakin banyak, hingga Kuwu pun ikut lupa dengan rakyatnya. Siapa yang salah? Tak ada yang salah, karena ini hanyalah dongeng anak nagara.