Malam semakin larut, api semakin berkobar, genderang bertabuh dumplak-dumplak dan penari mulai berlenggok dengan gincu menggoda. Sejenak Panglima berkoar pasukan kembali berbaris, memberi penghormatan pada kawan yang gugur. Ya, ini hanyalah dongeng di bumi para pelupa. Semua rakyat bekerja hingga memeras darah untuk mendepatkan seonggok koin. Koin-koin mereka tabung berharap akan semakin membukit. Anak-anak disekolahkan tinggi-tinggi berharap dapat bekerja di samping raja. Anak-anak yang berharap kejayaan masa depan berlomba menjadi yang terbaik, membuktikan pada orang tua mereka patut dibanggakan. Tapi sang anak lupa, kalau mereka hanyalah anak-anak yang dituntut dewasa. Anak-anak yang lupa cara bermain karena hanya berkawan dengan alat yang dinamakan kecanggihan.
Hingga suatu hari sang raja mengutus patihnya pergi berkeliling memantau keadaan rakyat. Semua aman, semua terkendali. Lorong-lorong jalanan bersih dari “tikus-tikus” got yang berkeliaran. Sawah-sawah subur dengan padi menguning, bebek-bebek di giring menyusuri jalan beraspal sesuai komando pemilik. Tapi sang patih lupa, lupa dari mana pupuk yang mereka dapatkan dan kemana arah bebek-bebek itu digiring.
Lupa, karena semua terlihat teratur.
Dengan kuda hitam terhebatnya patih menyusuri jalan kota, memacu kuda semakin kencang memberi kabar gembira pada sang raja. Di atas lututnya patih melopor dan raja dengan senyumnya yang ponggah memberikan selamat dan hadiah pada semua Patih hingga para Kuwu (pemimpin desa) karena berhasil mengatur rakyatnya dengan tertib dan aman. Mereka kembali menggelar pesta, para penyanyi dan penari diundang dari pelosok negeri untuk memperlihatkan betapa kayanya keanekaragaman negeri itu.
Ditengah riuhnya pesta seorang anak nagara berdiri ditengah panggung. Bukan untuk menyanyi bukan untuk menari, tapi untuk membaca kidung yang telah ia tulis.
Terangkanlah padaku dari segala nagara
Siapa yang mampu memberimu tanda
Jika pendengaran, penglihatan, dan hatimu tertutup oleh harta
Tak peduli, kau tetap pungut pajak untuk mengenyangkan perut
Tak peduli dari mana pupuk yang kami dapat
Kau tetap berpesta, melupa lalu menggila di atas perutmu yang gendut
Jika negeri umpama siang, maka tunggulah waktu malammu untuk“beristirahat”
Raja mulai gusar, dadanya kembang
kempis. Si anak ditangkap, genderang berhenti, penari berlari. Malam telah datang, uang telah hilang. Dongeng telah selesai, dan raja telah “beristirahat”. Para cucu tiap nagara tak akan pernah lupa dengan rajanya. Mereka terus mengingat pahitnya hidup nini akinya, mencoba mengembalikan ingatan yang hilang. Tapi percuma, para pelupa semakin banyak, hingga Kuwu pun ikut lupa dengan rakyatnya. Siapa yang salah? Tak ada yang salah, karena ini hanyalah dongeng anak nagara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar